Senja di Balik Layar dan Puncak Pengetahuan
Ponselku bergetar, memecah kesunyian sore yang mulai beringsut ke senja. Nama "Ibu Kepsek Dedeh - SDN Pinara" terpampang di layar. Senyum tipis mengembang di bibirku...
"Assalamualaikum, Kang Asep!" Suara renyah Ibu Dedeh langsung menyapa, penuh antusias. "Ini lho, Kang, Pak Ketua K3S Ciniru semangat banget pengen adain training Transformasi Digital buat semua sekolah..."
Hatiku menghangat. Ini dia. Ini yang selalu kudambakan. Geliat ilmu. Dahaga akan pembaruan. Bukan hanya guru PAI, tapi seluruh garda terdepan pendidikan...
“Kolaborasi dengan K3S dan FKKG untuk training Transformasi Digital ini, Kang!”
Flashback, kemarin. Rabu, 30 Juli. Aula KKG PAI Kecamatan Ciniru bergemuruh ide. Aku hadir bukan sebagai pengawas yang menggurui, tapi fasilitator yang membuka keran pikiran...
Perjalanan ke SDN Pinara sungguh menantang. Bukan dengan mobil, tapi Motor Supra tua tahun 2004, menembus hutan terjal dan jalanan berkelok. Tapi setibanya di sana, sambutan hangat dari para guru menghapus semua lelah...
“Google Documents dan Kecerdasan Artifisial Gemini telah sama-sama ditaklukkan.”
Di sana, di tengah keterbatasan fasilitas, mereka tidak menyerah. Mereka adalah aktor utama perubahan. Mereka mengejar ketertinggalan dengan lompatan digital...
Malam harinya, aku kembali di meja kerja. Bersama laptop, bersama cahaya monitor, kutuliskan desain RPM terintegrasi dengan Koding dan AI...
Aku ingin RPM ini bukan sekadar dokumen, tapi menjadi kompas digital guru-guru. Hingga jelang subuh, link desain digital itu sudah kuedarkan ke berbagai grup belajar...
Pagi ini, kembali gas. Menuju Pokjawaspai. Lalu bersiap ke KKG PAI Kramatmulya. Mereka punya niat mulia: mengaktifkan kembali pembiasaan belajar rutin. Temanya? Tentu saja Pembelajaran Mendalam dan Teknologi KKA.
Hatiku membuncah haru. Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan jiwa. Syiar keilmuan. Literasi dakwah berbasis digital...
“Teknologi, AI, koding — semua hanyalah alat. Jiwa seorang guru, semangat tholabul 'ilmi, dan niatan syiar itulah bahan bakarnya.”
Dan aku sangat bersyukur menjadi bagian dari geliat ini. Mendorong para pejuang edukasi Islam untuk terus menggeliat, menunjukkan kepedulian terhadap literasi dakwah — tak hanya di atas mimbar, tapi juga di setiap kelas, di setiap sentuhan digital.
No comments:
Post a Comment